b2

Misi Kemanusiaan: Mesir dan Palang Merah Bantu Pencarian Jenazah Sandera di Gaza

By Nurul Aulia Irawan October 27, 2025
Tim dari Mesir dan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mencari jenazah sandera yang tewas 7 Oktober. (X : Media Indonesia).

Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Tim dari Mesir dan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) telah mendapat izin untuk mencari jenazah sandera yang tewas dalam serangan 7 Oktober, menurut keterangan resmi dari pihak Israel.

Pemerintah Israel menyebutkan bahwa hanya mengizinkan kedua tim tersebut mencari jenazah di luar garis kuning wilayah yang kini dikuasai oleh IDF di Gaza.

Sementara itu, media Israel pada hari Minggu melaporkan bahwa sejumlah anggota Hamas juga diberikan akses ke wilayah Gaza yang berada di bawah kontrol IDF guna membantu proses pencarian bersama tim ICRC.

Dalam tahap pertama perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, Hamas telah menyerahkan 15 dari total 28 jenazah sandera Israel, sesuai kesepakatan yang mewajibkan pengembalian seluruh korban. Proses penyerahan selanjutnya kini dikoordinasikan dengan otoritas Mesir.

ICRC diketahui berperan aktif dalam proses penyerahan para sandera tersebut.

Hamas menyerahkan para tawanan baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal melalui ICRC, yang kemudian mengawal penyerahan mereka dari Gaza ke pihak Israel.

Namun, kehadiran tim penggali asal Mesir di dalam wilayah Gaza menjadi langkah baru dalam operasi ini.

PBB mencatat, lebih dari dua tahun serangan intensif oleh Israel telah menyebabkan sekitar 84% kawasan Gaza hancur menjadi reruntuhan.

Hamas mengaku tengah berupaya maksimal menemukan dan memulangkan jenazah para sandera, tetapi menghadapi kesulitan akibat banyaknya jasad yang tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel.

Saat ini, Hamas tetap menjalin koordinasi dengan otoritas Mesir.

Pada Minggu, juru bicara pemerintah Israel menegaskan bahwa Hamas sebenarnya mengetahui lokasi sebagian besar jenazah tersebut.

“Jika Hamas benar-benar berusaha, mereka bisa segera memulangkan jenazah warga kami,” ujarnya.

Presiden AS Donald Trump menulis di platform Truth Social pada Sabtu bahwa akan ada langkah tegas jika jenazah para sandera tidak segera dikembalikan.

“Beberapa jenazah memang sulit dijangkau, tapi sebagian lainnya bisa dipulangkan sekarang. Entah mengapa, mereka belum melakukannya—mungkin berkaitan dengan upaya pelucutan senjata mereka,” tulisnya.
Trump menambahkan, “Kita lihat dalam 48 jam ke depan apa tindakan mereka. Saya memantau situasi ini dengan sangat cermat.”

Pada hari Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel akan menentukan sendiri pasukan asing mana yang dapat diterima untuk menjadi bagian dari pasukan internasional di Gaza yang dirancang guna menegakkan gencatan senjata sesuai rencana yang diusulkan Trump.

“Kami tetap menjaga keamanan kami sendiri. Untuk pasukan internasional, kami yang memutuskan pihak mana yang dapat diterima atau tidak. Itulah prinsip kami, dan akan terus seperti itu,” tegas Netanyahu saat membuka rapat kabinet.

Sebelumnya, pada Jumat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa “banyak negara” telah menawarkan diri untuk bergabung dalam pasukan tersebut, namun menekankan bahwa Israel harus merasa nyaman dengan komposisi negara peserta.

Pernyataan itu diduga menyinggung Turki, setelah muncul laporan bahwa Israel menolak keterlibatan Ankara. Namun hingga kini, belum jelas bagaimana pasukan tersebut dapat diterjunkan tanpa adanya kesepakatan resmi dengan Hamas.

Israel melancarkan serangan militer besar-besaran di Gaza sebagai balasan atas serangan pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 lainnya.

Sejak saat itu, sedikitnya 68.519 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel di Gaza, menurut data dari kementerian kesehatan setempat yang dikelola Hamas.

 

Berita Terkait