Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Gemerlap Labuan Bajo kini tak sekadar menarik wisatawan, tetapi juga perhatian dunia. Kapal-kapal pesiar bersandar megah di dermaga yang dulu hanya disinggahi perahu nelayan. Hotel bertingkat berdiri anggun di perbukitan, menandai transformasi kota kecil di ujung barat Pulau Flores itu menjadi destinasi wisata premium Indonesia.
Namun di balik kemegahan yang tampak, terselip tanya yang mengusik: siapa sebenarnya yang menikmati kemewahan ini? Turis asing yang datang silih berganti, atau justru masyarakat lokal yang menjadi tuan rumah di tanah sendiri?
Kemajuan yang Meninggalkan Pemuda Lokal
Sebagai pemuda Manggarai Barat, banyak yang mengaku bangga melihat wajah baru Labuan Bajo. Bahasa asing kini bersahutan di kafe dan hotel, lapangan kerja baru bermunculan, dan pemerintah menobatkan Labuan Bajo sebagai “etalase pariwisata kelas dunia”.
Namun kebanggaan itu sering berbalut cemas. Sebab, di tengah gegap gempita pembangunan, tidak sedikit pemuda lokal yang justru tertinggal.
“Saya sudah berkali-kali melamar kerja di hotel. Jawabannya selalu sama: ‘Terima kasih, kami akan menghubungi Anda.’ Tapi sampai sekarang tak ada kabar,” ujar seorang pemuda asal Labuan Bajo yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, posisi kunci di hotel-hotel besar justru banyak diisi pekerja dari luar daerah. “Katanya mereka lebih berpengalaman. Tapi kami yang lahir dan besar di sini seolah tidak cukup baik untuk tanah sendiri,” keluhnya.
Data yang Menggambarkan Kesenjangan
Data Dinas Pariwisata Manggarai Barat tahun 2024 mencatat, hanya sekitar 35 persen tenaga kerja di sektor wisata premium yang berasal dari masyarakat lokal. Sementara untuk posisi manajerial, angka itu bahkan tak sampai 10 persen.
Keterbatasan akses pendidikan, pelatihan vokasi, serta kemampuan bahasa asing membuat banyak pemuda lokal terjebak di posisi rendah. Tak sedikit yang akhirnya memilih merantau ke kota lain, meninggalkan kampung halaman yang kini berubah terlalu cepat.
“Kadang kami merasa Labuan Bajo bukan lagi ruang untuk tumbuh, tapi panggung bagi orang lain untuk berkuasa,” ujar seorang aktivis muda asal Kecamatan Komodo.
Eksploitasi Tenaga Kerja dan Hilangnya Nilai Lokal
Permasalahan lain muncul dari sisi kesejahteraan. BPJS Ketenagakerjaan Manggarai Barat mencatat peningkatan laporan pekerja sektor pariwisata dalam dua tahun terakhir, terutama terkait kontrak kerja tidak jelas, jam kerja panjang, dan minimnya perlindungan sosial.
Namun suara mereka kerap tenggelam di tengah euforia promosi wisata. Slogan “Labuan Bajo, destinasi kelas dunia” menggema di bandara dan pelabuhan, menutupi realitas getir di balik layar.
Tak hanya itu, arus globalisasi juga mengguncang nilai budaya masyarakat lokal. Gaya hidup konsumtif dan individualis para wisatawan mulai menggerus tradisi seperti lonto leok (musyawarah), gotong royong, dan rasa cinta tanah.
“Jangan sampai kita bangun destinasi dunia, tapi kubur identitas kita sendiri. Kalau budaya hilang, kita ini siapa?” tegas seorang tokoh muda adat di Sano Nggoang.
UMKM dan Nelayan yang Terpinggirkan
Sektor ekonomi kreatif lokal sebenarnya tumbuh, namun belum seimbang. Data BPS 2023 menunjukkan hanya sekitar 20 persen unit usaha wisata yang dimiliki dan dikelola oleh pemuda lokal. Sisanya dikuasai oleh investor besar dan operator luar daerah.
Seorang nelayan tua mengungkapkan keresahannya, “Dulu laut ini tempat kami mencari hidup. Sekarang laut ini milik investasi.”
Ia menegaskan, masyarakat tidak menolak pembangunan, tapi ingin agar perubahan tidak menghapus kehidupan lama yang sudah bertahan jauh sebelum investor datang.
Harapan dan Seruan untuk Pemerintah
Meski demikian, pemuda Manggarai Barat tidak ingin sekadar menjadi penonton. Mereka menuntut kebijakan yang berpihak pada SDM local-mulai dari pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, hingga program kewirausahaan yang nyata, bukan hanya seremoni.
“Kami ingin menjadi aktor utama, bukan figuran dalam film pariwisata premium,” ujar seorang perwakilan komunitas muda Labuan Bajo.
Mereka berharap pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap praktik eksploitasi tenaga kerja dan memastikan kesejahteraan bagi semua pekerja pariwisata.
Bagi generasi muda Labuan Bajo, pembangunan sejati bukan diukur dari tinggi hotel atau jumlah kapal pesiar, melainkan dari seberapa banyak masyarakat lokal yang naik kelas.
“Kalau pemuda Manggarai Barat hanya jadi pelayan di rumah sendiri, ada yang salah dengan konsep kemajuan itu,” tutur mereka.
Kini, suara generasi muda semakin nyaring: mereka ingin Labuan Bajo maju tanpa meninggalkan rakyatnya, indah tanpa kehilangan budayanya.
“Labuan Bajo boleh premium bagi turis, tapi tidak boleh perih bagi pemudanya,” tegas mereka. “Kami bukan generasi yang kalah oleh perubahan, kami generasi yang akan membawa perubahan.” Ujar seorang pemuda local.
Penulis : Ahmad Rafiq
Aktivis Muda Manggarai Barat, NTT


