Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Dilansir dari Kompas.com, antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU belakangan ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar. Fenomena tersebut juga memperlihatkan kegelisahan sosial yang lebih dalam terkait cara masyarakat memaknai informasi, risiko, dan tingkat kepercayaan terhadap institusi yang bertanggung jawab menjaga stabilitas pasokan energi.
Isu geopolitik global, seperti ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dengan cepat memengaruhi persepsi publik hingga ke tingkat kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran mengenai potensi terganggunya pasokan energi dunia kerap berubah menjadi kecemasan lokal terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Di tengah situasi tersebut, pernyataan resmi pemerintah maupun PT Pertamina yang menegaskan bahwa stok BBM masih aman tidak selalu cukup untuk meredakan kekhawatiran masyarakat. Bagi sebagian warga, rasa aman tidak hanya muncul dari pernyataan formal, tetapi juga dari keyakinan bahwa sistem distribusi dan pengelolaan energi benar-benar dapat dipercaya.
Dalam perspektif sosial, fenomena panic buying tidak selalu dapat dianggap sebagai tindakan irasional. Perilaku tersebut sering muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian. Ketika kemungkinan terjadinya krisis dipersepsikan lebih besar daripada risiko membeli secara berlebihan, masyarakat cenderung memilih langkah pencegahan dengan mengamankan kebutuhan terlebih dahulu.
Tindakan seperti mengisi penuh tangki kendaraan atau datang lebih awal ke SPBU menjadi strategi sederhana untuk mengantisipasi kemungkinan yang belum tentu terjadi, tetapi terasa nyata dalam imajinasi kolektif masyarakat.
Pendekatan antropologis juga membantu memahami fenomena ini secara lebih luas. Antropolog James C. Scott menjelaskan bahwa dalam banyak masyarakat, warga tidak selalu sepenuhnya bergantung pada jaminan negara. Mereka sering mengembangkan berbagai cara informal untuk melindungi diri dari ketidakpastian kebijakan maupun perubahan situasi.
Dalam kerangka tersebut, panic buying dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi sosial, yaitu upaya masyarakat mengelola ketidakpastian melalui tindakan yang dianggap paling aman.
Konsep moral economy juga memberikan perspektif penting. Dalam pandangan ini, masyarakat memiliki harapan moral terhadap negara untuk menjaga akses terhadap kebutuhan dasar. Energi, seperti halnya pangan, tidak sekadar dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai kebutuhan vital yang harus dijaga stabilitasnya.
Ketika muncul keraguan terhadap kemampuan sistem dalam menjamin ketersediaan kebutuhan tersebut, masyarakat secara refleks mengambil langkah perlindungan sendiri.
Di sisi lain, penyebaran informasi melalui media sosial turut mempercepat terbentuknya persepsi kolektif mengenai potensi krisis. Gambar maupun video antrean panjang di SPBU dapat dengan cepat memicu reaksi berantai. Orang yang sebelumnya tidak merasa khawatir dapat berubah sikap setelah melihat banyak orang lain bertindak seolah-olah terjadi ancaman kelangkaan.
Dalam kondisi seperti ini, keputusan individu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh perilaku massa yang saling memperkuat.
Pada akhirnya, antrean panjang di SPBU menjadi lebih dari sekadar barisan kendaraan yang menunggu bahan bakar. Fenomena tersebut menjadi cermin sosial yang menggambarkan hubungan antara masyarakat dan negara. Ketika kepercayaan terhadap informasi resmi melemah, kepastian tidak lagi sepenuhnya datang dari institusi, melainkan dicari melalui tindakan kolektif masyarakat.
Karena itu, persoalan panic buying tidak hanya berkaitan dengan distribusi energi atau dinamika pasar. Fenomena ini juga menyentuh dimensi yang lebih mendasar, yakni pentingnya membangun kembali kepercayaan publik.
Selama rasa percaya tersebut masih rapuh, isu global yang sebenarnya jauh dari kehidupan sehari-hari dapat dengan mudah berubah menjadi kecemasan bersama. Antrean BBM pun pada akhirnya bukan hanya cerita tentang bahan bakar, melainkan tentang bagaimana masyarakat merespons ketidakpastian dan mencari rasa aman di tengah dunia yang semakin sulit diprediksi.


