b2

Harga Pangan Dunia Naik pada Maret 2026, Dipicu Lonjakan Biaya Energi dan Konflik Timur Tengah

By SARLIN WAGOLA April 3, 2026
Kenaikan harga terjadi pada semua kelompok komoditas utama, termasuk sereal, daging, susu, minyak nabati, dan gula. Ilustrasi (ANTARA/Angga Budhiyanto)

Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan bahwa harga pangan dunia mengalami kenaikan sebesar 2,4 persen pada Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya energi, yang merupakan dampak dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Laporan tersebut dirilis pada Jumat (3/4) dan menunjukkan tren kenaikan harga yang telah berlangsung selama dua bulan berturut-turut.

Menurut FAO, kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok komoditas utama, termasuk sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula. Secara keseluruhan, Indeks Harga Pangan FAO tercatat naik 1,2 poin atau sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rinci, Indeks Harga Sereal meningkat 1,5 persen secara bulanan (month-to-month) menjadi 110,4 poin, serta naik 0,6 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, Indeks Harga Minyak Nabati mencatat kenaikan paling signifikan, yakni sebesar 5,1 persen menjadi rata-rata 183,1 poin pada Maret. Ini menjadi kenaikan bulanan ketiga berturut-turut, dengan lonjakan tahunan mencapai 13,2 persen.

FAO mengungkapkan bahwa harga minyak sawit internasional telah mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, bahkan melampaui harga minyak kedelai. Kondisi ini sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan tajam harga minyak mentah global.

Di sisi lain, Indeks Harga Daging tercatat berada di level rata-rata 127,7 poin, naik 1 persen dibandingkan Februari dan 8 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk produk susu, indeksnya naik 1,2 persen dalam sebulan menjadi 120,9 poin, meskipun masih 18,7 persen lebih rendah dibandingkan Maret 2025.

FAO juga menyoroti bahwa kenaikan harga, khususnya pada komoditas gula, didorong oleh meningkatnya harga minyak mentah. Hal ini mendorong ekspektasi bahwa Brasil sebagai eksportir gula terbesar dunia akan mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.

Selain itu, kekhawatiran terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap arus perdagangan global turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga gula di pasar internasional.

Secara keseluruhan, FAO memperingatkan bahwa kombinasi faktor energi dan geopolitik berpotensi terus memengaruhi stabilitas harga pangan global dalam waktu dekat.

Berita Terkait