b2

Melampaui Figura, Peran Otentisitas dan Integritas Pemimpin dalam Memajukan Budaya dan Prestasi Sekolah

By SARLIN WAGOLA December 15, 2025

Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Kepemimpinan sekolah seringkali dipahami sebagai soal figur kepala sekolah yang kharismatik, pidato pembukaan upacara, atau citra di media sosial. Namun, yang benar-benar menentukan iklim kesehatan organisasi sekolah dan hasil belajar adalah dua hal yang lebih dalam yakni otentisitas (keaslian sikap, konsistensi antara ucap-dan-laku) dan integritas (kejujuran, akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya dan hubungan).

Hal ini mengacu bahwa jika kedua unsur ini diperkuat pada level kepemimpinan, maka budaya sekolah yang sehat serta prestasi siswa dapat meningkat secara berkelanjutan dan saya akan mendasarkannya pada data dan penelitian yang relevan serta rekomendasi praktis untuk konteks Indonesia.

Meta-analisis dan review literatur menunjukkan hubungan positif antara praktik kepemimpinan sekolah dan pencapaian akademik. Studi-studi kuantitatif menemukan efek positif meskipun bervariasi menurut jenis praktik kepemimpinan pada prestasi siswa dan motivasi guru.

Sebagai contoh, meta-analisis menemukan korelasi positif antara kepemimpinan guru dan pencapaian siswa, dan review lainnya melaporkan efek kecil-sedang tergantung pada praktik yang diukur. Ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar simbol, melainkan variabel yang berdampak nyata pada hasil pendidikan.

Untuk konteks Indonesia, data internasional seperti PISA 2022 memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan skor rata-rata Indonesia menurun dibanding 2018 untuk matematika, membaca, dan sains indikasi bahwa kualitas pembelajaran masih menghadapi tantangan sistemik.

Data nasional juga mencatat disparitas fasilitas, ketersediaan guru, dan kondisi ruangan kelas antar provinsi. Kondisi ini membuat peran kepala sekolah yang otentik dan berintegritas menjadi sangat krusial karena mereka sering menjadi titik keputusan praktis dalam penggunaan anggaran, prioritas program pembelajaran, dan pemeliharaan infrastruktur.

Otentisitas pemimpin sekolah berperan penting dalam membangun kepercayaan internal. Kepala sekolah yang otentik menunjukkan keselarasan antara nilai yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan. Ketika kepala sekolah berbicara tentang pentingnya pembelajaran bermakna, misalnya, ia juga hadir dalam supervisi kelas, membuka ruang dialog dengan guru, dan bersedia menerima kritik.

Sikap ini menciptakan iklim psikologis yang aman bagi guru untuk berinovasi tanpa takut disalahkan. Penelitian tentang iklim sekolah menunjukkan bahwa rasa aman dan kepercayaan merupakan prasyarat bagi peningkatan kualitas pembelajaran, karena guru yang merasa dihargai cenderung lebih reflektif dan kolaboratif.

Integritas melengkapi otentisitas dengan dimensi etis dan struktural. Dalam realitas sistem pendidikan Indonesia, kepala sekolah memegang kendali atas pengelolaan anggaran, pengadaan barang, serta distribusi kesempatan bagi guru. Tanpa integritas, kekuasaan ini rentan disalahgunakan, baik dalam bentuk praktik korupsi kecil, favoritisme, maupun pengambilan keputusan yang tidak berbasis kebutuhan pendidikan.

Berbagai laporan lembaga pemantau pendidikan menunjukkan bahwa penyalahgunaan anggaran sekolah berdampak langsung pada kualitas sarana belajar dan kepercayaan masyarakat. Sekolah yang kehilangan kepercayaan publik akan kesulitan membangun kemitraan dengan orang tua dan komunitas, padahal keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting dalam keberhasilan pendidikan.

Lebih jauh, integritas pemimpin sekolah juga berpengaruh pada stabilitas dan retensi guru. Guru cenderung bertahan dan bekerja optimal di lingkungan yang adil dan transparan.

Ketika promosi, penilaian kinerja, dan pembagian tugas dilakukan secara objektif, guru merasa dihargai sebagai profesional, bukan sekadar bawahan. Hal ini penting mengingat tingginya tantangan distribusi guru berkualitas di berbagai daerah. Sekolah yang dipimpin dengan integritas mampu menjaga kontinuitas pembelajaran karena tidak terus-menerus kehilangan guru berpengalaman.

Sayangnya, sistem rekrutmen dan pembinaan kepala sekolah di Indonesia masih lebih menekankan aspek administratif dibandingkan karakter kepemimpinan. Penilaian sering berfokus pada kelengkapan dokumen dan kepatuhan prosedural, sementara dimensi etika, refleksi diri, dan kemampuan membangun kepercayaan kurang mendapat porsi memadai. Akibatnya, muncul pemimpin yang secara formal memenuhi syarat, tetapi gagal menjadi teladan nilai bagi warga sekolah. Dalam kondisi seperti ini, budaya sekolah mudah terjebak pada rutinitas tanpa makna dan kepatuhan semu.

Mendorong kepemimpinan yang otentik dan berintegritas berarti menempatkan nilai sebagai inti pengelolaan sekolah. Transparansi anggaran, keterbukaan terhadap evaluasi publik, serta pelibatan guru dan orang tua dalam pengambilan keputusan bukan sekadar tuntutan akuntabilitas, melainkan strategi untuk memperkuat budaya sekolah.

Ketika kepala sekolah berani membuka ruang dialog dan mempertanggungjawabkan kebijakannya, sekolah berubah menjadi komunitas belajar yang hidup, bukan sekadar institusi administratif.

Pada akhirnya, kemajuan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa kuat figur pemimpinnya, melainkan seberapa dalam nilai yang ia hidupi. Otentisitas dan integritas memungkinkan kepemimpinan bekerja secara berkelanjutan, melampaui individu dan jabatan.

Dalam situasi pendidikan Indonesia yang masih menghadapi tantangan capaian belajar dan ketimpangan kualitas, menegaskan kembali pentingnya kepemimpinan berbasis nilai bukanlah romantisme moral, melainkan kebutuhan strategis. Dari kepemimpinan yang jujur dan konsisten itulah budaya sekolah yang sehat tumbuh, dan dari budaya itulah prestasi siswa dapat berkembang secara nyata.

Penulis: Imla Il Farok, S.S (Mahasiswa S2M Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang)

Berita Terkait