Pilihan-Rakyat.com, Sulawesi Selatan – Dalam dinamika gerakan mahasiswa, kita sering kali terjebak pada dikotomi kelompok yang kaku ego sektoral antar bendera yang terkadang membuat kita lupa bahwa tujuan utama organisasi mahasiswa adalah sebagai wadah pembebasan intelektual dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, sejarah kebangkitan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kabupaten Jeneponto memberikan pelajaran yang berbeda tentang ketulusan serta makna yang melampaui batas identitas.
Beberapa waktu lalu, eksistensi HMI di Jeneponto sempat berada di titik yang sunyi. Sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, kevakuman HMI di Butta Turatea tentu menjadi kerugian besar bagi iklim demokrasi dan kaderisasi kepemimpinan di level daerah. Di tengah situasi tersebut, muncullah sebuah inisiasi yang justru lahir dari persentuhan gagasan antara Meno, seorang kader HMI, dengan Asrianto, seorang tokoh pemuda yang memiliki latar belakang berbeda.
Asrianto bukan sekadar mahasiswa biasa; ia adalah pendiri berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di Institut Turatea Indonesia (INTI). Yang menarik dan patut menjadi catatan sejarah adalah latar belakangnya sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Secara organisatoris, ia berada di bawah bendera merah, namun secara visi, ia memiliki keluasan hati untuk melihat bendera hijau-hitam berkibar demi kemajuan mahasiswa Jeneponto.

Pertemuan antara Meno dan Asrianto di kampus Institut Turatea Indonesia menjadi awal dari “skenario” kebangkitan ini. Meno, dengan kegelisahannya, meminta arahan Asrianto untuk menghidupkan kembali HMI. Respon Asrianto saat itu sangat fundamental: “Berangkat saja dulu LK 2 (Latihan Kader II) HMI. Setelah itu, kita gagas untuk membangun HMI.”
Pernyataan ini adalah sebuah otokritik bagi gerakan mahasiswa zaman sekarang yang sering kali ingin tampil di permukaan tanpa kedalaman isi. Asrianto memahami bahwa untuk membangkitkan organisasi sebesar HMI, sang nakhoda (Meno) harus memiliki kematangan ideologis dan kualitas kepemimpinan yang teruji. Ia menuntut kualitas sebelum kuantitas.

Janji adalah hutang, dan integritas adalah bayarannya. Sekembalinya Meno dari proses panjang LK 2, Asrianto membuktikan keberpihakannya pada dunia aktivisme. Ia segera menyusun skema strategis, memetakan potensi gerakan, dan menggerakkan jaringannya untuk memuluskan jalan bagi kebangkitan HMI.
Melalui gerakan yang sistematis dan kolaboratif, HMI akhirnya kembali hadir di Jeneponto. Ini bukan sekadar tentang penambahan jumlah kader, melainkan tentang kembalinya “laboratorium” kepemimpinan bagi pemuda di Jeneponto.
Kisah kebangkitan HMI di Jeneponto melalui tangan dingin seorang kader IMM seperti Asrianto adalah tamparan keras bagi siapa saja yang masih memelihara konflik horizontal antar-organisasi. Sejarah ini mengajarkan kita bahwa. Kepentingan Umat di Atas Golongan untuk menghadirkan wadah bagi mahasiswa jauh lebih penting daripada sekadar rivalitas organisasi dan Sinergi Lokal menciptakan Kekuatan gerakan mahasiswa di daerah sangat bergantung pada kolaborasi tokoh-tokoh lokal yang ber-visi besar.
Kebangkitan HMI di Jeneponto adalah bukti bahwa jika niatnya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka alam semesta bahkan mereka yang berbeda bendera sekalipun akan ikut bahu-membahu membantu. Kini, tugas besar menanti para kader hijau-hitam di Jeneponto untuk membuktikan bahwa kepercayaan dan bantuan yang telah diberikan oleh para tokoh seperti Asrianto, dibayar tuntas dengan kerja nyata bagi masyarakat Turatea.


