Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Dikutip dari pemberitaan cnbcindonesia.com, Bank Indonesia (BI) mencatat peningkatan signifikan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional Indonesia dengan berbagai mitra dagang. Sepanjang 2025, nilai transaksi menggunakan skema local currency transaction (LCT) tercatat setara US$ 25,66 miliar, melonjak tajam dibandingkan capaian 2024 yang sebesar US$ 12 miliar.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan tren transaksi tanpa dolar AS tersebut menunjukkan semakin kuatnya upaya Indonesia dalam mengurangi ketergantungan terhadap mata uang global itu. Dengan penggunaan mata uang lokal, Indonesia dinilai mampu menghemat devisa hingga US$ 25,66 miliar.
“Sepanjang Januari sampai Desember 2025, volume meningkat mencapai US$ 25,66 miliar, meningkat dari US$ 12 miliar pada 2024,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1/2026).
Menurut Destry, pemanfaatan mata uang lokal dalam perdagangan lintas negara menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Penggunaan mata uang selain dolar AS dinilai dapat menekan risiko volatilitas nilai tukar serta memperkuat stabilitas sistem keuangan.
“Menggunakan mata uang selain dolar menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan dolar,” katanya.
Selain mendorong skema LCT, BI juga memperluas pengembangan pasar mata uang langsung (direct currency market) dengan sejumlah negara mitra dagang utama. Saat ini, BI aktif mendorong transaksi rupiah–yen dengan Jepang serta rupiah–renminbi dengan China.
Destry menuturkan, selama ini masih banyak kebutuhan mata uang asing seperti renminbi (CNY) yang dipenuhi melalui dolar AS sebagai perantara. Kondisi tersebut dinilai tidak efisien dan berpotensi meningkatkan risiko nilai tukar.
“Menurut pengamatan kami, banyak bank membutuhkan CNY, tapi transaksinya masih lewat dolar. Ini kami coba potong. Ke depan mereka butuh CNY, kita dorong pasar IDR–CNY aktif. Sebulan terakhir kami aktif dalam dua mata uang tersebut,” tegasnya.
BI optimistis tren penggunaan mata uang lokal akan terus meningkat seiring dengan penguatan kerja sama keuangan regional dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap mekanisme transaksi non-dolar.


