Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Pembentukan Pengurus Wilayah (PW) HIMA Persis Sulawesi Selatan melalui pelaksanaan KABBAH bukan sekadar agenda organisasi biasa. Momentum ini menjadi penanda lahirnya semangat baru gerakan mahasiswa Islam yang ingin tampil lebih aktif, progresif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Di tengah dinamika sosial dan krisis moral yang kerap menjadi sorotan di kalangan generasi muda, hadirnya PW HIMA Persis Sulsel dapat dibaca sebagai upaya membangun ruang kaderisasi yang tidak hanya menekankan intelektualitas, tetapi juga penguatan nilai keislaman dan pengabdian sosial. Kehadiran pimpinan pusat bersama kader-kader HIMA Persis Sulsel menunjukkan bahwa organisasi ini serius menata gerakan mahasiswa yang berorientasi pada perubahan positif di masyarakat.
Terpilihnya Andi Riswan sebagai ketua PW HIMA Persis Sulsel menjadi harapan baru bagi pengembangan organisasi di tingkat wilayah. Bahwa “Pembentukan ini diharapkan mampu memperluas peran mahasiswa dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Andi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Ketua Bidang Organisasi Pimpinan Pusat HIMA Persis yang menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang kritis, progresif, namun tetap berlandaskan nilai Islam. Pernyataan ini penting, sebab tantangan mahasiswa hari ini bukan hanya persoalan akademik, melainkan juga bagaimana menjaga integritas moral di tengah derasnya arus pragmatisme dan individualisme.
Kegiatan KABBAH yang diisi dengan diskusi kaderisasi, penguatan ideologi organisasi, dan penyusunan arah gerakan menunjukkan bahwa HIMA Persis Sulsel tidak ingin hanya menjadi organisasi simbolik. Organisasi ini tampak berupaya membangun fondasi gerakan yang terarah dan memiliki visi jangka panjang. Hal ini menjadi penting agar organisasi mahasiswa tidak sekadar aktif dalam seremoni, tetapi benar-benar mampu melahirkan gagasan dan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.
Antusiasme peserta terhadap pembentukan PW HIMA Persis Sulsel juga menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki semangat kolektif untuk membangun ruang kolaborasi yang sehat. Di tengah kecenderungan menurunnya partisipasi organisasi di kalangan mahasiswa, lahirnya wadah baru seperti ini dapat menjadi energi positif bagi penguatan kepemimpinan dan pengabdian sosial generasi muda.
Pada akhirnya, pembentukan PW HIMA Persis Sulsel harus menjadi titik awal, bukan tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi menjalankan komitmen organisasi, menjaga soliditas kader, serta menghadirkan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Jika hal itu mampu diwujudkan, maka HIMA Persis Sulsel berpeluang menjadi salah satu motor penggerak lahirnya mahasiswa Islam yang cerdas, berakhlak, dan berdampak bagi bangsa maupun daerah.


