
Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Ketua Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA Persis) Maluku mengkritik pertemuan antara Gubernur Maluku dan pimpinan organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Cipayung Plus. Pertemuan yang berlangsung di kediaman gubernur itu menjadi perhatian karena terjadi di tengah menguatnya isu dugaan pelaporan terhadap aktivis.
Dalam keterangan tertulisnya, Ketua HIMA Persis Maluku menilai, lokasi dan waktu pertemuan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks yang sedang berkembang. Ia menyebut publik beralasan untuk mempertanyakan mengapa pertemuan itu dilakukan di ruang yang relatif tertutup, bukan dalam forum terbuka.
“Ketika pertemuan dilakukan di kediaman gubernur, bukan di ruang publik atau forum resmi, maka wajar jika publik mempertanyakan: apa urgensinya, dan mengapa harus dalam format seperti itu,” ujarnya.
Menurut dia, dalam situasi normal, komunikasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan merupakan hal yang lazim. Namun, dalam konteks meningkatnya tekanan terhadap aktivis, pilihan tempat dan momentum pertemuan menjadi relevan untuk dikritisi.
“Ini bukan sekadar soal siapa yang bertemu, tetapi bagaimana dan dalam situasi apa pertemuan itu dilakukan. Di tengah isu pelaporan aktivis, pertemuan tertutup dengan kekuatan pemuda tentu memunculkan tafsir yang lebih luas,” katanya.
Ia menilai, dua peristiwa tersebut sulit dipisahkan dari satu kerangka besar dinamika politik yang sedang berlangsung. Karena itu, publik tidak bisa disalahkan jika membaca keduanya sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
“Ketika aktivis berhadapan dengan tekanan, lalu organisasi kepemudaan dikumpulkan dalam satu ruang yang tidak terbuka, publik tentu melihat ini sebagai pola yang perlu dijelaskan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti absennya penjelasan resmi mengenai substansi pertemuan tersebut. Menurut dia, tanpa transparansi, ruang publik akan dipenuhi oleh spekulasi yang sulit dikendalikan.
“Masalahnya bukan hanya pada pertemuannya, tetapi pada ketiadaan penjelasan. Dalam situasi seperti ini, diamnya pemerintah justru memperkuat kecurigaan,” katanya.
Ketua HIMA Persis Maluku juga mengingatkan bahwa organisasi kepemudaan, khususnya yang tergabung dalam Cipayung Plus, memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral yang selama ini dikenal kritis. Karena itu, setiap interaksi dengan kekuasaan harus tetap menjaga independensi.
“Cipayung Plus memiliki tanggung jawab historis untuk tetap berada di jalur kritis. Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh mengaburkan fungsi kontrol sosial,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kecenderungan yang dapat terbaca oleh publik, yakni tekanan terhadap individu yang kritis di satu sisi, dan pendekatan terhadap kelompok yang memiliki pengaruh sosial di sisi lain. Menurut dia, kombinasi ini berpotensi menimbulkan persepsi adanya upaya pengondisian.
“Jika dua hal ini terjadi dalam waktu yang berdekatan, maka wajar jika publik mempertanyakan arah kebijakan yang sedang diambil,” katanya.
Ketua HIMA Persis Maluku menegaskan bahwa stabilitas daerah tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keterbukaan. Ia menyebut kritik sebagai bagian penting dari mekanisme demokrasi.
“Stabilitas yang sehat lahir dari transparansi dan dialog terbuka, bukan dari pertemuan yang menimbulkan tanda tanya,” ujarnya.
Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai tujuan pertemuan tersebut, termasuk alasan pemilihan lokasi di kediaman gubernur.
“Penjelasan itu penting, agar publik tidak terus berada dalam ruang spekulasi. Karena dalam politik, yang tidak dijelaskan sering kali justru menjadi masalah,” katanya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak organisasi kepemudaan untuk tetap menjaga integritas dan tidak kehilangan posisi sebagai representasi suara publik.
“Pemuda harus tetap independen dan tidak kehilangan keberanian untuk bersikap kritis, terutama dalam situasi yang membutuhkan kejelasan seperti sekarang,” ujarnya.
Isu ini terus menjadi perbincangan di ruang publik, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap transparansi pemerintahan dan kebebasan berpendapat di daerah.
Penulis: YW


