Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Ketika Memasuki Ruang kelas hari ini, guru terus menanamkan nilai-nilai disiplin, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sesama. Pada saat yang sama, layar ponsel di tangan siswa menyuguhkan arus konten yang bergerak tanpa henti. Algoritma media sosial menampilkan beragam tontonan, mulai dari konten inspiratif hingga video prank yang mempermalukan orang lain, tantangan berbahaya demi popularitas, serta komentar kasar yang dikemas sebagai hiburan.
Kondisi ini memperlihatkan ironi pendidikan di era digital. Sekolah dan keluarga berupaya membentuk karakter anak, tetapi media sosial turut hadir sebagai ruang belajar baru yang sangat berpengaruh. Anak-anak tidak hanya meniru apa yang diajarkan guru dan orang tua, tetapi juga menyerap nilai dari konten yang mereka konsumsi setiap hari.
Penurunan karakter siswa pada akhirnya tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Konten digital memang memiliki pengaruh besar, tetapi keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat sama-sama memegang peran penting dalam mengarahkan pengaruh tersebut. Karakter anak akan tumbuh dengan baik apabila seluruh lingkungan di sekitarnya hadir untuk memberikan pendampingan, keteladanan, dan pengawasan yang konsisten.
Bagi generasi hari ini, media sosial bukan sekadar sarana hiburan. Ia telah menjadi ruang belajar, tempat berinteraksi, sekaligus sumber nilai. Anak-anak dapat menghabiskan berjam-jam menyaksikan video di TikTok, YouTube, atau Instagram. Mereka dengan mudah menghafal gerakan tarian, dialog viral, hingga gaya bicara para kreator konten.
Tidak sedikit anak yang lebih cepat meniru tren media sosial daripada nasihat guru atau orang tua. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki daya pengaruh yang luar biasa besar terhadap pembentukan perilaku. Sayangnya, tidak semua konten yang viral mengandung nilai edukatif.
Banyak yang justru menonjolkan sensasi, popularitas instan, dan validasi semu melalui jumlah likes, komentar, dan followers. Kita menyaksikan bagaimana tantangan berbahaya di media sosial ditiru tanpa mempertimbangkan risiko.
Prank yang mempermalukan orang lain dianggap lucu. Ujaran kasar dipandang wajar. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dalam situasi seperti ini, ruang digital menjadi arena sosial yang sangat menentukan cara anak berpikir, berbicara, dan bertindak.
Dampak media sosial tidak berhenti di layar. Ia hadir nyata di lingkungan sekolah dan rumah. Bahasa kasar yang dulunya dianggap tidak sopan kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Perundungan semakin sering terjadi, baik secara langsung maupun melalui media daring. Anak-anak juga menunjukkan kecenderungan untuk sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan kurang memiliki empati.
Banyak guru mengeluhkan siswa yang lebih antusias membahas konten viral atau permainan daring dibandingkan materi pelajaran. Sebagian siswa tidur di kelas karena begadang menonton video atau bermain gim. Di rumah, interaksi dengan keluarga berkurang karena perhatian tersita pada layar.
Perubahan ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan karakter. Psikolog Albert Bandura melalui teori Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi dan peniruan. Mereka mencontoh perilaku yang dianggap menarik, populer, atau memperoleh penghargaan sosial.
Dalam konteks media sosial, penghargaan tersebut hadir dalam bentuk views, likes, dan komentar.
Ketika seorang kreator memperoleh jutaan penonton karena melakukan tindakan sensasional, anak dapat menangkap pesan bahwa perilaku tersebut layak ditiru. Semakin sering mereka terpapar, semakin besar kemungkinan perilaku itu menjadi bagian dari kebiasaan.
Dengan kata lain, karakter anak dibentuk bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Media sosial memang memiliki pengaruh besar, tetapi pengaruh itu tidak bekerja dalam ruang hampa. Efeknya sangat bergantung pada ada atau tidaknya kontrol dari lingkungan sekitar anak.
Di lihat dari sisi lain, tidak semua sekolah secara konsisten menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas. Pembentukan karakter masih sering dipahami sebagai tugas guru agama atau guru Bimbingan Konseling, padahal sejatinya harus menjadi budaya seluruh sekolah.
Pemerintah pun menghadapi tantangan besar. Regulasi terkait perlindungan anak di ruang digital masih belum sepenuhnya efektif, sementara perkembangan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kebijakan. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan ruang digital lebih aman bagi anak. Regulasi, pengawasan, dan kampanye literasi digital perlu diperkuat secara berkelanjutan.
Karena itu, pembentukan karakter siswa merupakan tanggung jawab kolektif. Orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan platform digital harus bekerja bersama untuk memastikan teknologi menjadi sarana pendidikan, bukan sumber degradasi moral.
Penulis: Mutiara Puspa Dewanny- Mahasiswi Semester 2 jurusan PGSD UNPAM


