
Pilihan-Rakyat.com, Depok, 4 Agustus 2026 – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA) menyelenggarakan kegiatan “Peningkatan Kapasitas Guru dan Orang Tua sebagai Penggerak dan Pendamping 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” di SMP Muhammadiyah Cisalak, Kota Depok, Selasa (4/8/2026).
Program pengabdian kepada masyarakat yang mendapatkan pendanaan dari Ristekdikti ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dan orang tua dalam mendampingi siswa membangun kebiasaan sehat secara bertahap, konsisten, dan terukur.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Sarah Handayani, SKM, M.Kes., bersama Dr. Emma Rachmawati, Dra., M.Kes. dan Dr. Novi Andayani Praptiningsih, M.Si. Tim UHAMKA juga bekerja sama dengan Yang Fajar Kurniawan, SKM, MKM., dosen Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Hermina Jakarta.
Program ini mendukung salah satu prioritas pemerintah, yaitu Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr. Sarah Handayani, SKM, M.Kes., menjelaskan bahwa pembentukan kebiasaan sehat pada remaja membutuhkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Anak tidak cukup hanya diberi pengetahuan, nasihat, atau larangan, tetapi perlu didampingi untuk mengenali hambatan dan menemukan langkah perubahan yang mampu mereka jalankan.
“Sebagian siswa SMP masih terbiasa tidur hingga pukul satu dini hari karena bermain gim, menonton video, atau menggunakan media sosial. Sebagian lainnya juga mulai mengalami kesulitan berinteraksi dan terlibat dalam kegiatan bermasyarakat. Kondisi ini perlu disikapi melalui pendampingan bersama, bukan dengan menyalahkan anak,” ujar Sarah.
Tidur terlalu larut dapat menyebabkan anak sulit bangun pagi, tidak sempat sarapan, mengantuk di kelas, kurang berkonsentrasi, dan kehilangan energi untuk berolahraga. Sementara itu, kurangnya interaksi sosial dapat menghambat perkembangan empati, kemampuan berkomunikasi, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Dalam pelatihan, guru dan orang tua diperkenalkan dengan pendekatan COM-B, salutogenesis, dan psikologi positif. Kerangka COM-B membantu peserta memahami bahwa suatu perilaku akan lebih mudah terbentuk apabila anak memiliki kemampuan, kesempatan, dan motivasi.
Kemampuan mencakup pengetahuan dan keterampilan anak untuk menjalankan kebiasaan sehat. Kesempatan meliputi dukungan keluarga, sekolah, teman, fasilitas, serta lingkungan. Sementara itu, motivasi berhubungan dengan niat, emosi, minat, kebiasaan lama, dan makna yang dirasakan anak.
Pendekatan salutogenesis mengajak guru dan orang tua tidak hanya berfokus pada masalah dan kekurangan anak, tetapi juga mengenali kekuatan, aset, serta sumber daya yang dapat mendukung perubahan. Adapun psikologi positif digunakan untuk membangun emosi positif, relasi yang sehat, keterlibatan, kebermaknaan, dan penghargaan terhadap pencapaian kecil anak.
Melalui pendekatan tersebut, orang tua dianjurkan tidak menuntut anak mengubah seluruh kebiasaan secara bersamaan. Anak yang terbiasa tidur pukul satu dini hari, misalnya, dapat mulai memajukan waktu tidurnya sekitar 15–30 menit secara bertahap. Keluarga juga dapat membuat kesepakatan jam tenang dan menyimpan gawai di luar kamar pada malam hari.
Untuk menumbuhkan kebiasaan bermasyarakat, anak dapat memulai dari tindakan sederhana, seperti menyapa tetangga, membantu pekerjaan rumah, berbicara sopan, tidak mengejek teman, membantu teman belajar, mengikuti kegiatan masjid, atau terlibat dalam aktivitas sosial di lingkungan.
Guru dan orang tua juga diperkenalkan dengan prinsip pendampingan 5S, yaitu menyederhanakan perilaku, menyepakati target bersama anak, menyiapkan lingkungan pendukung, menyertai anak dalam proses perubahan, dan mensyukuri setiap kemajuan.
Kepala SMP Muhammadiyah Cisalak, Zubaedah, M.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap kerja sama dengan tim pengabdian masyarakat dapat terus berlanjut sehingga tujuh kebiasaan tidak hanya diperkenalkan melalui satu kali pelatihan, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya sekolah dan keluarga.
Program ini menempatkan guru dan orang tua sebagai mitra dengan pembagian peran yang saling melengkapi. Sekolah menguatkan kebiasaan melalui pembelajaran, layanan bimbingan dan konseling, kegiatan keagamaan, olahraga, serta budaya sekolah. Keluarga melanjutkannya melalui pengaturan pola tidur, penggunaan gawai, makan, belajar, ibadah, dan interaksi sosial di rumah.
Pemantauan kebiasaan dilakukan untuk mengenali perkembangan dan kebutuhan dukungan anak, bukan untuk mencari kesalahan atau mempermalukannya. Perubahan dari kondisi “belum melakukan” menjadi “mulai mencoba” dipandang sebagai kemajuan yang perlu diapresiasi.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian masyarakat berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara sekolah, guru, orang tua, dan siswa. Kolaborasi tersebut diperlukan agar Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi praktik seharihari yang memperkuat kesehatan fisik, kesehatan mental, karakter, keimanan, prestasi, dan kemampuan sosial anak.
Kegiatan “Peningkatan Kapasitas Guru dan Orang Tua sebagai Penggerak dan Pendamping 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” merupakan program pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen UHAMKA dengan dukungan pendanaan Ristekdikti. Program dilaksanakan bersama SMP Muhammadiyah Cisalak, Kota Depok, dan Institut Kesehatan Hermina Jakarta untuk memperkuat peran sekolah dan keluarga dalam membentuk kebiasaan sehat pada remaja.
Penulis : DR. Sarah Handayani, S.K.M., M.Kes. (Dosen FKM UHAMKA)


