Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi perhatian dunia setelah serangkaian serangan militer dan aksi balasan di kawasan Timur Tengah memicu ketidakpastian geopolitik global. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Ketegangan meningkat setelah operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut kemudian memicu ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Gangguan di Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan berpotensi mendorong kenaikan harga energi internasional. Sejumlah laporan bahkan menyebut krisis ini sebagai salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar minyak modern.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan terhadap anggaran energi, biaya impor, dan inflasi domestik. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga berpotensi terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman saat risiko geopolitik meningkat.
Dampak lain yang turut menjadi perhatian adalah pergerakan pasar modal. Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik sering kali memicu aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat memperbesar volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa waktu terakhir juga menghadapi tekanan dari sentimen ekonomi global.
Pengamat ekonomi menilai pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan konflik dengan memperkuat ketahanan energi nasional, menjaga stabilitas nilai tukar, serta memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman. Langkah tersebut dinilai penting untuk meredam risiko ekonomi apabila konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah. Jika ketegangan terus meningkat, tekanan terhadap harga minyak, nilai tukar, dan pasar keuangan global diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Reporter: Vito Rachmawan


