b2

Pengakuan Ketua BEM FH UBK Terima Uang Pascademonstrasi Picu Polemik di Internal Kampus

By Vito Rachmawan June 23, 2026
Dok. X/@txtdarigenz97

Pilihan-rakyat, Jakarta – Pengakuan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK), Muhammad Abdi Maludin, terkait penerimaan uang setelah aksi demonstrasi mahasiswa dan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu polemik di lingkungan kampus serta menjadi sorotan publik.

Polemik mencuat setelah beredar video forum terbuka yang memperlihatkan Abdi menyampaikan permintaan maaf kepada mahasiswa dan mengakui menerima sejumlah uang. Dalam forum tersebut, ia menjelaskan bahwa dana yang diterimanya kemudian dibagikan kepada beberapa pihak yang terlibat dalam rangkaian kegiatan demonstrasi dan audiensi.

Sebelumnya, mahasiswa UBK menjadi salah satu kelompok yang menggelar aksi demonstrasi di kawasan Istana Negara pada 15 Juni 2026. Setelah aksi berlangsung, sebanyak 15 perwakilan mahasiswa diterima untuk berdialog dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden. Dalam pertemuan itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait evaluasi kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi nasional, serta program-program prioritas pemerintah.

Pengakuan tersebut memunculkan beragam reaksi dari mahasiswa UBK. Sejumlah mahasiswa mempertanyakan integritas pengurus organisasi kemahasiswaan dan mendesak adanya penjelasan terbuka mengenai kronologi penerimaan dana tersebut. Di media sosial, peristiwa ini juga memicu perdebatan mengenai independensi gerakan mahasiswa dan hubungan antara aktivisme kampus dengan aktor-aktor di luar organisasi mahasiswa.

Dalam berbagai keterangan yang beredar, muncul sejumlah versi mengenai asal-usul dan tujuan dana yang diterima. Namun hingga saat ini belum terdapat penjelasan resmi yang dapat memastikan secara utuh kronologi maupun pihak yang memberikan dana tersebut. Sejumlah informasi yang berkembang masih berupa pengakuan dan klaim dari pihak-pihak yang terlibat.

Di tengah polemik yang berkembang, mahasiswa UBK disebut tengah mendorong langkah evaluasi internal serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Beberapa tuntutan juga muncul agar dilakukan penelusuran secara independen guna memastikan transparansi dan akuntabilitas organisasi mahasiswa.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pihak Istana Wakil Presiden terkait pengakuan yang disampaikan dalam forum tersebut. Sementara itu, polemik masih terus berkembang dan menjadi perhatian publik, terutama di kalangan mahasiswa dan pegiat demokrasi yang menilai independensi gerakan mahasiswa harus tetap dijaga.

Kasus ini kembali memunculkan diskusi mengenai etika kepemimpinan mahasiswa, transparansi organisasi kemahasiswaan, serta pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi.

Berita Terkait