Pilihan-Rakyat.com, New York – Pasar keuangan global kembali mengalami tekanan kuat setelah bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6). Aksi jual besar-besaran menyebabkan sekitar US$1,3 triliun nilai kapitalisasi pasar Wall Street menguap hanya dalam satu hari perdagangan.
Tekanan terbesar terjadi pada sektor teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar. Saham perusahaan teknologi raksasa seperti Nvidia dan Micron mengalami penurunan signifikan seiring meredanya optimisme investor terhadap tren kecerdasan buatan (AI) yang selama ini mendorong reli pasar saham global.
Selain aksi ambil untung di sektor teknologi, pasar juga dibayangi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.
Sentimen negatif semakin diperkuat oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama jika gangguan terjadi di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mengalami kenaikan dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Sebelumnya, Wall Street juga mencatat pelemahan signifikan pada perdagangan pertengahan pekan. Indeks Dow Jones turun lebih dari 620 poin, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq turut terkoreksi akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Gejolak pasar global diperkirakan akan berdampak pada bursa saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Analis menilai investor akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi arus modal dan sentimen pasar domestik.
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat dan perkembangan terbaru di Timur Tengah. Ketidakpastian yang masih tinggi diperkirakan akan membuat volatilitas pasar global tetap berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Reporter: Vito Rachmawan


