b2

Rupiah Menguat ke Rp17.740,85 per Dolar AS, Sentimen Positif Pasar dan Arus Modal Asing Jadi Penopang

By Vito Rachmawan June 16, 2026
Dok. indo connect

Pilihan-rakyat, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan berhasil menyentuh level Rp17.740,85 per dolar AS pada perdagangan Selasa (16/6). Penguatan ini memperpanjang tren positif mata uang Garuda setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni lalu.

Penguatan rupiah terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan domestik. Sejumlah analis menilai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya arus modal asing ke pasar Indonesia menjadi faktor utama yang menopang pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Bank Indonesia sebelumnya mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah di level Rp18.190 per dolar AS.

Langkah Bank Indonesia mendapat respons positif dari investor. Data otoritas moneter menunjukkan aliran modal asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik, terutama pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Pada lelang SRBI 10 Juni 2026, Bank Indonesia berhasil menghimpun dana sekitar Rp15 triliun dari investor.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebelumnya menyatakan bahwa penguatan rupiah tidak terlepas dari kombinasi kebijakan stabilisasi yang dilakukan BI bersama pemerintah. Selain kenaikan suku bunga, langkah tersebut mencakup penguatan instrumen investasi domestik, operasi moneter yang lebih intensif, serta upaya menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Penguatan rupiah juga memberikan optimisme bagi pelaku usaha karena berpotensi menekan biaya impor bahan baku dan mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari barang impor. Meski demikian, pengamat ekonomi mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik internasional.

Hingga penutupan perdagangan hari ini, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan bank sentral global dan perkembangan ekonomi domestik. Namun, penguatan rupiah ke level Rp17.740,85 per dolar AS dinilai menjadi sinyal positif bahwa stabilitas pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan setelah tekanan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Berita Terkait