b2

Rupiah Menguat ke Rp17.944 per Dolar AS, Ditopang Kenaikan Suku Bunga BI dan Optimisme Investor

By SARLIN WAGOLA June 10, 2026
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,63 persen di level Rp17.944 per dolar AS pada perdagangan Rabu (10/6) sore. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Pilihan-Rakyat.com, Jakarta – Dikutip dari cnnindonesia.com, Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (10/6) sore. Mata uang Garuda berada di level Rp17.944 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 114 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,22 persen dan won Korea Selatan naik 0,41 persen. Sementara itu, yuan China melemah 0,05 persen, ringgit Malaysia turun 0,09 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,06 persen, dan yen Jepang melemah 0,02 persen. Dolar Hong Kong menjadi salah satu mata uang yang masih menguat tipis sebesar 0,01 persen.

Di kawasan negara maju, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Euro naik 0,07 persen, poundsterling Inggris menguat 0,09 persen, dan dolar Kanada bertambah 0,12 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,21 persen dan franc Swiss turun 0,09 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong sentimen positif dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5 persen pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah,” ujar Ibrahim.

Selain faktor suku bunga, penguatan rupiah juga didukung meningkatnya minat investor terhadap aset domestik, termasuk optimisme terhadap lelang Surat Utang Negara (SUN). Langkah pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan nasional.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa sejumlah risiko eksternal masih berpotensi menekan pergerakan rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Untuk perdagangan Kamis (11/6), Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif namun masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Berita Terkait