b2

Ancaman Karhutla Meningkat, BMKG Tetapkan Enam Provinsi dalam Status Siaga

By SARLIN WAGOLA June 11, 2026
Dok. Antara Foto/Fransisco Carolio

Pilihan-Rakyat, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia seiring berlangsungnya musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah titik panas (hotspot) dalam beberapa bulan terakhir menjadi indikator awal yang mendorong pemerintah meningkatkan kewaspadaan.(11/06/26)

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa hingga awal Juni 2026 terdeteksi sekitar 1.700 titik panas di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut meningkat lebih cepat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015 dan 2019, dua tahun yang dikenal sebagai periode terjadinya karhutla besar di Indonesia.

BMKG menetapkan enam provinsi dalam status siaga karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi karena kombinasi cuaca kering, lahan gambut, serta meningkatnya jumlah titik panas.

Menurut BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, dan Nusa Tenggara diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih berat dibandingkan kondisi normal.

Ancaman karhutla juga diperparah oleh potensi fenomena El Niño yang diperkirakan berkembang pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan dan meningkatkan suhu udara, sehingga memperbesar risiko kebakaran lahan dan hutan. Pemerintah bahkan telah meminta petani mempercepat masa tanam guna mengantisipasi musim kering yang berkepanjangan.

Selain berdampak pada lingkungan, karhutla berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan akibat kabut asap, merusak ekosistem, mengganggu aktivitas ekonomi, serta memengaruhi sektor transportasi udara. Pengalaman kebakaran besar pada 2015 menjadi perhatian utama pemerintah dalam upaya pencegahan tahun ini.

Pemerintah bersama BMKG, BNPB, TNI, Polri, dan pemerintah daerah kini meningkatkan patroli serta pemantauan hotspot di wilayah rawan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di kawasan hutan maupun lahan.

Hingga Kamis (11/6), otoritas terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan sebaran titik panas. Langkah mitigasi dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah terulangnya bencana kabut asap yang pernah melanda sejumlah wilayah Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.

Reporter: Vito Rachmawan

Berita Terkait