Pilihan-rakyat, Jakarta – Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang masih berlangsung terus menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Selain berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah, konflik tersebut juga dikhawatirkan memberikan dampak terhadap perekonomian nasional melalui kenaikan harga energi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan meningkatnya beban fiskal negara.
Sejumlah ekonom menilai dampak paling langsung yang dapat dirasakan Indonesia adalah kenaikan harga minyak dunia. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dan bahan bakar dalam jumlah besar, Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global yang dipicu ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, sebelumnya mengingatkan bahwa konflik yang melibatkan Iran dapat berdampak pada pasokan energi dan jalur logistik internasional. Menurutnya, kenaikan harga minyak menjadi konsekuensi yang hampir pasti terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat.
Kekhawatiran juga muncul terkait kemungkinan gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Apabila distribusi minyak melalui jalur tersebut terganggu, harga minyak global berpotensi melonjak dan memicu tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengantisipasi berbagai skenario yang mungkin terjadi. Menteri Keuangan sebelumnya memperkirakan negara dapat membutuhkan tambahan subsidi energi hingga Rp100 triliun apabila konflik berkepanjangan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
Selain sektor energi, ketidakpastian geopolitik juga berpotensi memengaruhi pasar keuangan. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika risiko geopolitik meningkat, sehingga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar modal domestik.
Bank Indonesia sebelumnya juga menempatkan konflik Timur Tengah sebagai salah satu faktor eksternal yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Gejolak harga komoditas dan meningkatnya ketidakpastian global dinilai berpotensi menghambat pemulihan ekonomi serta meningkatkan risiko inflasi.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam kategori terkendali. Berbagai langkah mitigasi terus disiapkan untuk menjaga stabilitas harga, ketersediaan energi, serta ketahanan fiskal apabila konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Pengamat menilai perkembangan konflik Iran–Israel akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha diminta terus memantau situasi guna mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin muncul terhadap perekonomian nasional.


